Advertisement Corner

Hosting Murah


Diantara Dua Pilihan : Gila atau Mati

Diposting oleh Dwi Wahyudi | | | 3 komentar »

Pemilu IndonesiaEmpat hari berlalu sudah sejak pemilihan caleg DPRD II, DPRD I, DPD, dan DPR-RI dilaksanakan. Meskipun jumlah perhitungan suara belum diputuskan secara final dari KPU, namun berdasarkan perhitungan cepat (quickcount) dari beberapa lembaga survei independen seperti Lembaga Survei Indonesia, Lingkaran Survei Indonesia, Cirus, dan lain-lain telah dapat diketahui secara garis besar partai-partai mana saja yang memperoleh suara terbanyak. Jumlah suara ini nantinya akan berpengaruh pada jumlah jatah kursi yang diperoleh untuk masing-masing wilayah.

Akan menjadi momen yang bahagia bagi calon legislatif yang berhasil meraih suara mayoritas sehingga otomatis mereka akan menduduki jatah legislatif yang telah disediakan untuk periode 2009-2014. Sedangkan bagi para calon legislatif yang tidak mendapat dukungan suara yang cukup, Keadaan akan menjadi berbanding terbalik dimana menurut informasi yang disiarkan oleh beberapa media televisi di Indonesia ada beberapa diantaranya mengalami depresi berat dikarenakan tidak mampu menerima kenyataan bahwa pada akhirnya mereka harus gagal menjadi wakil rakyat. Parahnya lagi malah ada juga yang akhirnya meninggal dunia dikarenakan serangan jantung dan stroke mendadak begitu mendengar berita bahwa dirinya kalah suara. Sungguh ironis memang...

Faktor modal yang kuat menjadi kunci utama yang harus dimiliki oleh masing-masing caleg jika mereka ingin mewujudkan mimpinya untuk bisa duduk di singgasana kerakyatan. Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa dana yang diperlukan oleh masing-masing caleg untuk melakukan kampanye tidaklah sedikit. Dibutuhkan minimal ratusan juta untuk membuat atribut-atribut kampanye seperti baleho, spanduk, bendera, promosi di media cetak dan elektronik, serta biaya-biaya yang harus dikeluarkan dalam rangka melakukan sosialisasi selama masa kampanye.

Bagi caleg-caleg yang memiliki dukungan yang kuat tentunya masalah modal yang dikeluarkan tidak akan menjadi masalah bagi mereka, sekarang yang bermasalah adalah caleg-caleg yang dengan modal pas-pasan memaksakan diri untuk ikut "berperang" dalam kancah perpolitikan Indonesia. Sudah tahu kalau politik itu kejam dan kotor, masih juga mau terjun kedalamnya. Hanya demi mengejar ambisi untuk menjadi wakil rakyat, orang rela untuk menjual harta bendanya dan meminjam uang kepada siapa saja. Mereka berharap apabila seandainya mereka terpilih nanti, semua harta yang telah mereka jual dan hutang yang mereka pinjam dapat mereka kembalikan. Iya kalau terpilih, kalau ngga gimana? Ya tinggal gigit jari deh...

Sebenarnya kalau dipikir-pikir niat yang ada dibenak mereka apa sih? Apakah benar-benar Lillahi Ta'ala ingin menjadi wakil rakyat dalam artian sebenarnya atau hanya sekedar ingin memperoleh fasilitas lebih yang didapat jika seandainya mereka menjadi wakil rakyat nanti. Awal-awal kampanye aja bilangnya tanpa pamrih, eh begitu ngga terpilih malah semua bantuan yang udah diberikan diminta kembali. Ngga lucu kan?? Malah kelihatan bener kalau niatnya udah ngga ikhlas dan ngga jujur ama diri sendiri dan orang lain. Kalau dipikir secara logika, gaji bulanan bagi anggota dewan berapa sih? Belum tentu dalam satu periode mereka bisa mengembalikan semua modal yang sudah mereka keluarkan untuk melakukan kampanye hanya dengan mengandalkan gaji bulanan. Sedangkan jika mereka mengharapkan can-can tepi dari proyek-proyek yang dianggarkan, mereka harus was-was karena saat ini KPK mengintai dimana-mana. Begitu selesai menjabat, bukannya malah bebas eh malah ditangkap KPK karena penyimpangan yang telah mereka lakukan selama menjabat.

Percaya aja, segala sesuatu yang dimulai dengan niat yang jelek maka Insya Allah untuk seterusnya tidak akan diberkahi ama Allah SWT. Jadi, buat caleg-caleg yang saat ini masih berdag-dig-dug ria menunggu hasil final perhitungan suara dari KPU, terus berdo'a saja ya. Kalau memang rezeki ngga akan kemana kok, jika memang kita dikasih amanah untuk mewakili rakyat ya Insya Allah akan terpilih. Namun bagi yang ngga terpilih, tawakal dan pasrah saja kepada Allah SWT. Yang namanya pertaruhan besar pasti resikonya juga akan besar. Jika ngga bisa menerima resikonya, ya mau dikata apalagi. Palingan pilihan yang mereka miliki hanya dua yaitu Gila atau Mati.

Sumber : Dwi Wahyudi, SE

Bookmark and Share

3 komentar

  1. vie_three // 13 April 2009 11.44  

    ternyata jadi caleg gak melulu hidup bahagia, buktinya ajah dihadapkan sama 2 pilihan yang berat, gila atau mati. iiihhhhh gituh kok diperebutkan.

  2. IMAM MEQELS // 14 April 2009 07.06  

    Kita hidup memang harus memilih antara dua pilihan,begitu juga dalam pemilu kali ini,kita harus arif menilai dan mengambil langkah,jangan sampai salah jalan,untuk para caleg yang tidak lulus,buka mata hati dan pikiran,bahwa semua sudah ada yang mengaturnya,walaupun usaha kita sudah maksimal,tapi kita belum di percaya TUHAN,tetap tidak akan bisa,sabar kunci segalanya,salam

  3. IMAM MEQELS // 14 April 2009 08.55  

    BUAT PARA CALEG YANG TIDAK LOLOS HARAP SEGERA INTROSPEKSI DIRI LEBIH DALAM LAGI,AGAR ANDA SEGERA BISA MENERIMA APA YANG TERJADI,INGATLAH BAHWA KITA BISA BERBAKTI DAN BERBUAT BANYAK DEMI BANGSA BUKAN HANYA KITA JADI ANGGOTA DEWAN SAJA,BANYAK CARA KITA BISA BERBUAT UNTUK NEGARA,DIMANAPUN KITA BERADA,SELAMA ADA NIAT BAIK DAN TULUS IKHLAS KITA BISA,SALAM

Posting Komentar

Send Message

Your Location

Powered by IP Address Locator