Advertisement Corner

Hosting Murah


Cara Mengatur Keuangan Keluarga

Diposting oleh Dwi Wahyudi | | | 3 komentar »

Keuangan KeluargaMengatur keuangan keluarga ternyata tidak semudah yang disangka oleh sebagian besar pasangan suami istri. Pada umumnya hal ini lebih banyak terjadi pada pasangan-pasangan yang baru menikah, akan tetapi banyak juga diantaranya dialami oleh pasangan yang sudah lama berkeluarga. Disadari atau atau tidak, keuangan merupakan salah satu faktor penunjang harmonis tidaknya jalannya suatu rumah tangga. Banyak kasus pertengkaran yang terjadi diakibatkan keadaan ekonomi yang pas-pasan, bahkan beberapa diantaranya harus mengambil jalan pintas dengan berpisah karena masing-masing merasa tidak tahan dengan keadaan ekonomi yang dialami.

Untuk dapat mengatur keuangan dengan baik, setiap pasangan suami istri harus dapat memperhatikan hal-hal sebagai berikut :

1. Tentukanlah Waktu Diskusi yang Tepat
Menurut penelitian psikologik, waktu yang paling rawan terjadinya pertengkaran adalah mulai dari jam 5 sampai dengan saat makan malam (sekitar jam 7 an). Hal ini disebabkan karena pada rentangan waktu tersebut, tingkat emosi yang dimiliki oleh pasangan suami istri sangat tinggi karena masing-masing masih merasa capek dan lelah setelah seharian beraktivitas. Alangkah baiknya jika pada rentangan waktu tersebut digunakan untuk beristirahat sejenak sambil minum teh bareng atau membaca koran.

2. Tanggung Jawab Harus Dipikul Bersama
Semua pasangan suami istri harus selalu setuju dengan prinsip "Apa Milik Saya adalah Milik Kamu Juga". Biasanya untuk urusan harta dan anak prinsip ini bisa diterapkan. Sekarang biasanya yang menjadi masalah adalah mengenai tanggung jawab untuk mengatur keuangan. Siapa yang lebih pantas untuk memikul tanggung jawab tersebut, apakah suami atau istri? Dari pihak suami menganggap istri yang lebih pantas karena tugas suami hanyalah mencari uang, sedangkan dari pihak istri sendiri merasa suami yang lebih pantas karena beranggapan dirinya hanyalah seorang istri yang tugasnya mengatur rumah tangga, bukannya keuangan. Jika pemikirannya seperti itu, kapan bisa selesainya masalah ini? Makanya ada pepatah yang mengatakan "Berat Sama Dipikul, Ringan Sama Dijinjing", tanggung jawab tidak akan terasa berat jika dari masing-masing sama-sama bersedia untuk memikulnya.

3. Ketahuilah dengan Jelas Keadaan Sebenarnya dari Biaya yang Harus Dikeluarkan
Sering seorang suami tidak pernah tahu berapa sebenarnya biaya rekening listrik, air, atau telepon setiap bulannya. Demikian juga seorang istri yang tidak pernah tahu berapa yang dibutuhkan suami untuk membeli bensin untuk kendaraannya. Sebaiknya masing-masing harus mengetahui jumlah biaya-biaya yang sebenarnya harus dikeluarkan selama satu bulan ke depan sehingga sejak awal sudah bisa dilakukan pemisahan pos-pos anggaran untuk biaya-biaya tersebut. Lagipula, ini bisa menghindari terjadinya "korupsi dalam keluarga" karena biasanya masing-masing tergoda untuk membelanjakan sesuatu tanpa sepengetahuan pasangan jika dari awalnya tidak ada keterbukaan mengenai keuangan keluarga.

4. Tentukan Bersama-sama Batasan Jumlah Uang untuk Kesenangan Pribadi Masing-masing
Tidak dapat dipungkiri setiap orang pasti memiliki keinginan untuk bersenang-senang setelah sekian lama berkutat dengan hiruk pikuknya kota dan aktivitas rutin yang kadang kala membosankan. Tidak ada yang melarang kita untuk bersenang-senang, selama semuanya masih dalam batas anggaran yang wajar. Selama masih ada rezeki, ngga ada salahnya kan kita melakukan pleasure en jalan-jalan bersama keluarga. Namun, hal tersebut juga tidak dapat dipaksakan seandainya dana yang dimiliki sangat terbatas karena masih ada kebutuhan yang lebih penting daripada hanya sekedar bersenang-senang.

5. Susunlah Rencana Anggaran Belanja Bersama-sama
Ini merupakan poin terakhir yang bisa dilakukan setelah pada empat poin sebelumnya telah bisa dijalankan dengan baik. Ada sebagian yang menganggap penyusunan Rencana Anggaran Belanja Keluarga hanya bisa bersifat formalitas saja dan terkadang tidak sesuai dengan apa yang telah disusun sebelumnya. Logikanya begini aja, terkadang apa yang telah dianggarkan sebelumnya aja masih banyak yang over budget kan? Sekarang bagaimana jika seandainya tidak ada sama sekali anggaran yang dibuat, malah bisa lebih parah lagi pengeluaran yang terjadi. Ya setidak-tidaknya dengan adanya Rencana Anggaran Belanja Keluarga, dapat diketahui secara garis besarnya kira-kira jenis-jenis biaya apa aja yang over budget sehingga untuk kedepannya biaya tersebut dapat ditekan atau bahkan dihilangkan.

Demikianlah sedikit pengetahuan dari saya dan memang tidak mudah untuk melakukannya karena saya sendiri juga masih belum bisa menerapkan seperti itu. Pada awalnya suami atau istri memang terasa sangat sulit untuk menerapkan komitmen tersebut.Namun, dengan adanya tulisan ini diharapkan dapat memberikan gambaran bagi masing-masing pasangan bahwa semuanya akan terasa ringan jika dipikul secara bersama-sama dan keterbukaan terhadap masing-masing pasangan merupakan faktor penentu keharmonisan suatu rumah tangga. (bL4ckC4Tz)

Bookmark and Share

3 komentar

  1. anna fardiana // 19 Maret 2009 13.23  

    terus terabg saya gak telaten nyatet pengeluaran...hehe...suka males gitu...

    tapi untungnya saya gak boros...
    hehehe

  2. Yudi Akuntan // 19 Maret 2009 14.20  

    Iya mbak, percuma juga kalau dicatat kalau emang orangnya boros. Sebenarnya itu sifatnya praktis aja sih, thanks for komentarnya.

  3. Tc // 19 Maret 2009 17.40  

    mantep mas artikelnya, bisa untuk bekal nanti klo saya sudah berumah tangga hehehe. btw salam kenal ya mas

Posting Komentar

Send Message

Your Location

Powered by IP Address Locator